Minggu, 09 Agustus 2026

Dari Cipto, Menteng, Casablanca, hingga Bogor


Catatan Panjang Seorang Anak Betawi yang Tumbuh Bersama Jakarta


Aku lahir di Jakarta, di sebuah rumah sakit yang namanya sudah begitu melekat dalam sejarah kota ini: Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Orang-orang mungkin akan menganggap itu hanya sebuah tempat kelahiran.


Bagiku, tidak.

Entah mengapa, setiap kali mengingat tempat aku dilahirkan, rasanya seperti sedang membuka halaman pertama dari sebuah buku yang sangat tebal. Buku itu belum selesai bahkan ketika rambutku mulai memutih.

Aku adalah anak Betawi.

Bukan anak Betawi yang lahir di kampung pinggir Jakarta dengan rumah beranda luas dan pohon rambutan di halaman. Aku lahir di tengah kota, di antara gedung-gedung, jalan raya, suara kendaraan, dan hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur.

Tetapi darah Betawi tetap mengalir dalam tubuhku.

Dan Jakarta adalah rumah pertamaku.

---

BAB I — LAHIR DI CIPTO

Aku tidak ingat hari ketika aku lahir.

Tentu saja tidak.

Kenangan itu hanya kudapat dari cerita orang tua yang berkali-kali mereka ulang ketika aku masih kecil.

“Lu lahir di Cipto,” begitu kira-kira cerita yang sering kudengar.

Dari cerita mereka, aku tahu bahwa hari kelahiranku bukanlah hari yang istimewa bagi Jakarta.

Jakarta tetap sibuk seperti biasa.

Orang-orang tetap mengejar pekerjaan. Becak masih lalu-lalang. Bus dan kendaraan umum memenuhi jalan. Pedagang menjajakan dagangan. Para bapak pergi bekerja, para ibu mengurus rumah, anak-anak bermain tanpa memikirkan dunia yang akan mereka hadapi kelak.

Di tengah semua itu, aku datang.

Seorang anak kecil yang belum tahu bahwa dunia tempat ia dilahirkan kelak akan berubah berkali-kali.

Aku belum tahu bahwa jalan-jalan yang pada masa itu terasa begitu besar nantinya akan terasa sempit.

Aku belum tahu bahwa gedung-gedung yang tampak tinggi akan kalah tinggi dengan gedung-gedung yang dibangun puluhan tahun kemudian.

Aku juga belum tahu bahwa Jakarta yang kelak kukenal akan menjadi Jakarta yang berbeda.

Aku hanya seorang bayi.

Dan orang tuaku mungkin hanya punya satu harapan sederhana:

Semoga anak ini sehat.

Semoga panjang umur.

Semoga hidupnya baik-baik saja.

Mereka tidak mungkin tahu bahwa kelak aku akan menjalani hidup yang cukup panjang untuk menyaksikan Jakarta berubah dari zaman ke zaman.

---

BAB II — MENTENG, TEMPAT AKU BELAJAR MENJADI ANAK

Masa kecilku banyak dihabiskan di Menteng.

Menteng pada masa itu mempunyai suasana yang berbeda dengan Menteng yang dikenal orang sekarang.

Bagi seorang anak kecil, Menteng bukan kawasan elite.

Menteng adalah dunia.

Dunia tempat aku belajar berlari, jatuh, menangis, tertawa, berkelahi kecil dengan teman, lalu sore harinya kembali bermain bersama seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Anak-anak zaman itu tidak membutuhkan banyak mainan.

Tidak ada telepon genggam.

Tidak ada internet.

Tidak ada YouTube.

Tidak ada permainan online.

Kalau ingin bermain, ya keluar rumah.

Selesai.

Jalanan adalah taman bermain kami.

Lapangan adalah tempat kami menghabiskan waktu.

Pohon bisa menjadi benteng.

Kardus bisa menjadi mobil.

Bambu bisa menjadi apa saja.

Dan kalau sudah sore, suara ibu-ibu memanggil anaknya dari depan rumah menjadi tanda bahwa permainan harus berakhir.

“Pulang!”

Satu kata yang dulu terasa menyebalkan.

Sekarang justru menjadi salah satu suara yang paling kurindukan.

Aku tumbuh bersama anak-anak lain yang berasal dari berbagai latar belakang.

Ada yang Betawi, Jawa, Sunda, Tionghoa, dan berbagai macam keluarga lainnya.

Tetapi ketika kami bermain, semua menjadi sama.

Tidak ada yang bertanya siapa bapaknya.

Tidak ada yang bertanya rumahnya sebesar apa.

Tidak ada yang bertanya punya uang berapa.

Yang penting bisa ikut bermain.

Kalau jago bola, ya dihormati.

Kalau berani memanjat pohon, ya dianggap hebat.

Kalau punya sepeda, teman-teman mendadak menjadi sahabat paling dekat.

Begitulah dunia anak-anak.

Sederhana.

Dan mungkin justru karena sederhana itulah ia menjadi begitu indah.

---

Jakarta yang Tidak Lagi Ada

Kadang aku suka berpikir:

Seandainya aku bisa kembali ke Menteng ketika masih kecil, apa yang akan kulakukan?

Mungkin aku hanya ingin berjalan kaki.

Tidak perlu membawa apa-apa.

Tidak perlu memotret.

Tidak perlu merekam video.

Aku hanya ingin melihat kembali jalan-jalan yang dulu kulewati.

Mendengar suara Jakarta yang dulu.

Melihat rumah-rumah lama.

Melihat pohon-pohon yang mungkin sudah tidak ada.

Dan kalau beruntung, mungkin aku bisa bertemu dengan diriku sendiri yang masih kecil.

Anak kecil yang berlari tanpa memikirkan masa depan.

Aku ingin berkata kepadanya:

“Jangan buru-buru besar.”

“Jalani saja masa kecilmu.”

“Karena suatu hari nanti, kamu akan merindukannya.”

---

BAB III — MENJADI ANAK BETAWI

Sebagai anak Betawi, aku tumbuh dengan banyak hal yang sekarang terasa semakin jauh.

Ada bahasa.

Ada makanan.

Ada kebiasaan.

Ada cara bercanda.

Ada cara menghormati orang tua.

Ada cara bertetangga.

Dan ada satu hal yang paling kuat:

rasa kekeluargaan.

Dulu, tetangga bukan sekadar orang yang rumahnya bersebelahan.

Tetangga adalah bagian dari kehidupan.

Kalau ada yang punya hajatan, orang sekitar ikut membantu.

Kalau ada yang sakit, orang datang menjenguk.

Kalau ada yang meninggal, kampung ikut berduka.

Kalau ada anak nakal, bukan hanya orang tuanya yang menegur.

Tetangga bisa ikut menegur.

Dan anehnya, kita tidak merasa tersinggung.

Karena kita tahu, semua itu dilakukan karena rasa memiliki.

Aku tumbuh dalam suasana seperti itu.

Mungkin aku baru menyadari nilainya setelah dewasa.

Ketika hidup semakin sibuk.

Ketika orang mulai tinggal di rumah yang pagarnya tinggi.

Ketika tetangga hanya dikenal dari nama di grup WhatsApp.

Ketika bertemu orang sebelah rumah saja kadang harus membuat janji.

Dulu, pintu rumah bisa terbuka.

Sekarang, pintu dan pagar semakin banyak.

Mungkin zaman memang berubah.

Dan manusia hanya bisa ikut berjalan bersamanya.

---

BAB IV — REMAJA DAN JAKARTA YANG MULAI BERUBAH

Waktu berjalan.

Anak kecil dari Menteng itu mulai remaja.

Tubuh berubah.

Suara berubah.

Cara berpikir berubah.

Dan Jakarta pun ikut berubah.

Jalan-jalan semakin ramai.

Bangunan semakin banyak.

Kendaraan semakin padat.

Dunia yang dulu terasa luas mulai terasa semakin cepat.

Aku mulai mengenal kehidupan di luar lingkungan masa kecilku.

Mulai mengenal pergaulan.

Mulai mengenal pekerjaan.

Mulai mengenal uang.

Mulai mengenal cinta.

Dan, tentu saja, mulai mengenal kecewa.

Itulah masa ketika seseorang mulai berpikir bahwa ia sudah dewasa.

Padahal sebenarnya belum.

Kita mulai merasa mampu menentukan hidup sendiri.

Mulai merasa nasihat orang tua kadang terlalu kuno.

Mulai ingin mencoba semuanya.

Mulai berani mengambil keputusan.

Dan baru bertahun-tahun kemudian kita sadar:

Ternyata orang tua tidak selalu salah.

Hanya saja, kita memang harus mengalaminya sendiri untuk mengerti.

---

BAB V — CASABLANCA: KETIKA AKU MULAI MENJADI DEWASA

Kemudian hidup membawaku ke Casablanca.

Bukan Casablanca yang ada di Maroko.

Casablanca yang kukenal adalah bagian dari Jakarta yang menjadi saksi ketika aku mulai benar-benar masuk ke dunia orang dewasa.

Di sinilah hidup terasa berbeda.

Kalau Menteng adalah tempat aku belajar menjadi anak, maka Casablanca adalah tempat aku belajar menjadi manusia dewasa.

Di sini aku mulai mengenal kerasnya kehidupan.

Pagi bukan lagi berarti bangun lalu bermain.

Pagi berarti harus berangkat.

Harus bekerja.

Harus berpikir.

Harus mencari uang.

Harus menghadapi orang.

Harus belajar bahwa dunia tidak selalu adil.

Ada orang baik.

Ada orang licik.

Ada orang yang membantu tanpa pamrih.

Ada pula orang yang tersenyum ketika membutuhkan sesuatu.

Aku belajar membaca manusia.

Dan ternyata itu jauh lebih sulit daripada membaca buku.

---

Jakarta Mengajarkanku Banyak Hal

Jakarta mengajariku bahwa hidup bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu.

Kadang hidup adalah tentang mempertahankan sesuatu.

Pekerjaan.

Keluarga.

Persahabatan.

Kepercayaan.

Nama baik.

Dan yang paling sulit:

diri sendiri.

Ada masa ketika aku merasa kuat.

Ada masa ketika aku merasa lelah.

Ada masa ketika uang terasa cukup.

Ada masa ketika uang terasa tidak pernah cukup.

Ada masa ketika teman datang begitu banyak.

Ada masa ketika aku menyadari bahwa pada akhirnya setiap orang mempunyai jalan masing-masing.

Orang-orang yang dahulu sering duduk bersamaku mulai berpencar.

Ada yang menikah.

Ada yang pindah.

Ada yang sukses.

Ada yang jatuh.

Ada yang hilang kabar.

Dan ada yang akhirnya hanya tinggal nama dalam ingatan.

Begitulah kehidupan.

Kita bertemu.

Kita berjalan bersama.

Lalu suatu hari, jalan kita bercabang.

---

BAB VI — CINTA, KELUARGA, DAN RUMAH

Di tengah kesibukan hidup, aku menemukan bahwa yang sebenarnya kucari bukanlah Jakarta.

Bukan pula pekerjaan.

Bukan uang.

Bukan pengakuan orang.

Yang kucari adalah rumah.

Bukan hanya rumah berupa bangunan.

Tetapi tempat di mana seseorang bisa pulang tanpa harus berpura-pura menjadi siapa-siapa.

Tempat di mana lelah boleh terlihat.

Tempat di mana kesalahan masih bisa dimaafkan.

Tempat di mana makan sederhana bisa terasa lebih nikmat daripada makanan mahal.

Tempat di mana suara orang-orang yang kita cintai menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Aku mulai memahami bahwa keluarga adalah perjalanan panjang.

Tidak selalu mudah.

Ada perbedaan.

Ada pertengkaran.

Ada salah paham.

Ada diam.

Tetapi ada pula tawa.

Ada kebersamaan.

Ada kepedulian.

Dan ada perasaan bahwa, bagaimanapun keadaan dunia di luar sana, masih ada orang-orang yang akan tetap menunggu kita pulang.

---

BAB VII — WAKTU TIDAK PERNAH BERHENTI

Aku tidak pernah merasa tiba-tiba menjadi tua.

Tidak ada suatu pagi ketika aku bangun lalu berkata:

“Wah, hari ini aku sudah tua.”

Tidak.

Usia datang diam-diam.

Pertama, rambut mulai berubah.

Kemudian tubuh mulai memberi tanda.

Yang dulu mudah dilakukan mulai membutuhkan tenaga.

Naik tangga tidak lagi sama.

Begadang tidak lagi semudah dulu.

Teman-teman mulai banyak yang mengeluh tentang badan.

Percakapan yang dulu membahas perempuan, mobil, pekerjaan, dan kesenangan mulai berubah menjadi:

“Tekanan darah lu berapa?”

“Kolesterol lu gimana?”

“Lu sudah cek kesehatan belum?”

Lucu.

Tetapi memang begitu hidup.

Ketika muda, kita berpikir memiliki tubuh adalah sesuatu yang otomatis.

Ketika tua, kita baru menyadari bahwa tubuh ternyata adalah titipan.

Dan waktu tidak bisa diajak bernegosiasi.

---

BAB VIII — BOGOR

Kemudian, setelah puluhan tahun hidup bersama Jakarta, aku akhirnya sampai di Bogor.

Aku datang ke Bogor bukan sebagai anak kecil.

Bukan sebagai anak muda yang sedang mencari dunia.

Aku datang sebagai seseorang yang sudah membawa terlalu banyak cerita.

Jakarta telah memberiku masa kecil.

Jakarta juga memberiku masa muda.

Tetapi Bogor memberiku sesuatu yang berbeda:

kesempatan untuk berhenti sebentar.

Di sini, hidup terasa sedikit lebih lambat.

Udara terasa berbeda.

Hujan datang dengan caranya sendiri.

Kadang deras.

Kadang lama.

Kadang hanya sebentar.

Tetapi suara hujan Bogor memiliki sesuatu yang membuat pikiran menjadi lebih tenang.

Di Bogor, aku mulai menikmati hal-hal yang dulu mungkin kuanggap sepele.

Duduk di depan rumah.

Minum kopi.

Melihat halaman.

Mendengar suara burung.

Memandangi langit.

Mengobrol dengan keluarga.

Atau sekadar duduk sendiri sambil mengingat masa lalu.

Dan ternyata, semakin tua seseorang, semakin ia menyukai hal-hal sederhana.

---

BAB IX — DARI MENTENG KE BOGOR

Kadang aku mencoba mengurutkan hidupku berdasarkan tempat.

Cipto.

Menteng.

Casablanca.

Bogor.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya bukan tempat-tempat itu yang membentuk hidupku.

Melainkan orang-orang yang kutemui di dalamnya.

Cipto adalah tempat aku memulai.

Menteng adalah tempat aku menjadi anak.

Casablanca adalah tempat aku belajar menjadi dewasa.

Bogor adalah tempat aku belajar berdamai dengan usia.

Dan di antara semuanya ada satu kota yang selalu menjadi benang merah:

Jakarta.

Jakarta yang dulu.

Jakarta yang sekarang.

Jakarta yang mungkin suatu hari nanti bahkan sudah tidak kukenal lagi.

---

BAB X — KETIKA AKU MENGENANG JAKARTA

Ada kalanya aku duduk sendirian dan tiba-tiba teringat Menteng.

Bukan karena ada sesuatu yang ingin kucari.

Hanya rindu.

Rindu pada suara-suara masa kecil.

Rindu pada teman-teman yang mungkin sudah lama tidak bertemu.

Rindu pada orang-orang yang dulu terasa akan selalu ada.

Padahal ternyata tidak.

Ada orang yang pergi karena pindah rumah.

Ada yang pergi karena menikah.

Ada yang pergi karena pekerjaan.

Ada yang pergi karena usia.

Dan ada yang pergi untuk selamanya.

Yang terakhir itulah yang paling berat.

Sebab kita tahu, tidak ada lagi kesempatan untuk mengatakan:

“Eh, kapan kita ketemu lagi?”

Tidak ada lagi kesempatan untuk tertawa bersama.

Tidak ada lagi kesempatan untuk meminta maaf.

Maka akhirnya yang tersisa hanyalah kenangan.

Dan semakin tua aku, semakin kusadari:

Kenangan adalah rumah yang tidak bisa dijual, tidak bisa terbakar, dan tidak bisa direbut siapa pun.

Selama kita masih mengingatnya, orang-orang yang pernah kita cintai tetap mempunyai tempat di dalam diri kita.

---

BAB XI — ANAK BETAWI YANG SUDAH TUA

Sekarang aku melihat hidup dengan cara yang berbeda.

Aku tidak lagi terlalu sibuk mengejar apa yang dulu kuanggap penting.

Aku lebih suka sesuatu yang tenang.

Tidak perlu terlalu banyak orang.

Tidak perlu terlalu banyak suara.

Tidak perlu membuktikan apa-apa.

Aku sudah pernah menjadi anak.

Sudah pernah menjadi remaja.

Sudah pernah menjadi orang muda yang merasa mampu menaklukkan dunia.

Sudah pernah bekerja.

Sudah pernah mengejar uang.

Sudah pernah kecewa.

Sudah pernah bahagia.

Sudah pernah kehilangan.

Dan akhirnya aku mengerti:

Hidup bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki.

Hidup adalah tentang siapa yang masih bisa bersyukur atas apa yang dimilikinya.

---

EPILOG — EMPAT TEMPAT, SATU KEHIDUPAN

Kalau suatu hari ada yang bertanya:

“Lu orang mana?”

Mungkin aku akan tersenyum.

Aku bisa menjawab:

“Gue anak Betawi.”

“Tapi lahir di Cipto.”

“Besar di Menteng.”

“Dewasa di Casablanca.”

“Dan sekarang tua di Bogor.”

Mereka mungkin akan mengira itu hanya jawaban tentang tempat.

Padahal tidak.

Empat tempat itu adalah empat bab dalam hidupku.

Cipto adalah awal.

Di sana aku datang ke dunia tanpa membawa apa-apa.

Menteng adalah masa kecil.

Di sana aku belajar tertawa, bermain, berteman, dan mengenal dunia.

Casablanca adalah masa dewasa.

Di sana aku belajar bahwa kehidupan tidak selalu mudah, bahwa manusia tidak selalu seperti yang kita kira, dan bahwa untuk mendapatkan sesuatu kita harus berjuang.

Dan Bogor adalah tempat aku belajar menerima.

Menerima bahwa waktu berjalan.

Menerima bahwa tubuh berubah.

Menerima bahwa orang-orang datang dan pergi.

Menerima bahwa tidak semua pertanyaan dalam hidup mempunyai jawaban.

Dan akhirnya, menerima bahwa setiap perjalanan memang memiliki ujung.

Aku tidak tahu berapa panjang jalan yang masih tersisa.

Tidak ada manusia yang tahu.

Tetapi kalau suatu sore aku duduk di depan rumah di Bogor, memandangi langit yang mulai berubah warna, mungkin aku akan tersenyum sendiri.

Aku akan membayangkan seorang anak kecil yang dulu berlari-lari di Menteng.

Anak Betawi yang belum tahu apa-apa tentang kehidupan.

Aku ingin mengatakan kepadanya:

“Lu akan melewati banyak hal.”

“Lu akan ketawa.”

“Lu juga akan nangis.”

“Lu akan bertemu banyak orang.”

“Sebagian akan tinggal lama.”

“Sebagian hanya sebentar.”

“Lu akan kehilangan beberapa orang yang lu sayang.”

“Dan suatu hari lu akan mengerti bahwa waktu ternyata berjalan jauh lebih cepat daripada yang lu kira.”

“Tapi jangan takut.”

“Jalani saja.”

“Karena semua yang lu lewati itu akan menjadi cerita.”

Lalu mungkin aku akan menoleh ke halaman rumah.

Mendengar suara hujan Bogor.

Mencium aroma tanah basah.

Menyeruput kopi perlahan.

Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar mengerti arti kata pulang.

Aku ternyata tidak sedang pulang ke Bogor.

Aku sedang pulang kepada seluruh hidupku.

Kepada Cipto tempat aku dilahirkan.

Kepada Menteng tempat aku menjadi anak.

Kepada Casablanca tempat aku menjadi dewasa.

Kepada orang-orang yang pernah mencintaiku.

Kepada mereka yang pernah berjalan bersamaku.

Kepada mereka yang telah pergi tetapi tidak pernah benar-benar hilang.

Dan kepada diriku sendiri.

Seorang anak Betawi yang memulai hidupnya di Jakarta, tumbuh bersama zaman, menua bersama kenangan, dan akhirnya menemukan ketenangan di Bogor.

Empat tempat.

Empat bab.

Satu kehidupan.

Dan kalau hidup adalah sebuah perjalanan panjang, mungkin inilah kalimat yang paling tepat untuk menutupnya:

“Gue bukan cuma pernah tinggal di Jakarta. Jakarta pernah tinggal di dalam diri gue.”

1 komentar: